Logo SantriDigital

Istirahat Sejenak dari Beban Pikiran: Ngaji Hikmah 4 Kitab al-Hikam

Khutbah Jumat
S
Saiful Amien
30 April 2026 5 menit baca 0 views

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ...

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Di tengah hiruk pikuk dunia yang tak berujung, seringkali hati kita terbebani oleh jutaan pikiran, jutaan kekhawatiran, jutaan kerisauan. Jiwa kita bergetar, merana, dipeluk duka dalam diam, tanpa ada yang benar-benar mengerti. Kita berusaha mencari ketenangan, namun batin semakin kalut. Kita merindukan kedamaian, tapi dunia semakin merampasnya. Betapa lelahnya jiwa ini menanggung beban yang seolah takkan pernah terangkat. Allah Ta'ala berfirman, mengingatkan kita akan hakikat kehidupan ini: "Sungguh, manusia diciptakan [dengan sifat] berkeluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah." (QS. Al-Ma'arij: 19-20) Ayat ini seolah menggambarkan derita batin yang amat dalam, sebuah luka yang tak terlihat namun sangat terasa. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Dalam kitab suci kehidupan, Al-Hikam, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, ulama besar yang senantiasa menjadi pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang tersesat, memberikan seberkas cahaya untuk kita. Ia mengajarkan bahwa istirahat sejati dari beban pikiran bukanlah dengan melarikan diri dari dunia, melainkan dengan menyelami lautan hikmah ilahi. Ia berkata, "Janganlah engkau merasa bosan karena lamanya suatu urusan (belumberesai), padahal engkau belum berputus asa dari Allah." (Al-Hikam: 12) Dengarlah, saudaraku, betapa indahnya nasihat ini! Janganlah kerut di keningmu bertambah dalam hanya karena harapanmu belum terwujud. Janganlah jiwamu merintih dalam kesedihan yang mendalam. Allah Maha Melihat, dan Allah Maha Mengabulkan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Ketika beban terasa terlalu berat, saat pikiran berputar-putar tiada henti, ingatlah firman Allah yang penuh kelembutan, "Dan berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu." (QS. Ghafir: 60) Ia bukan sekadar janji, ia adalah jaminan dari Zat Yang Maha Kuasa. Namun, terkadang kita terlarut dalam keluhan, lupa untuk berserah diri. Kita sibuk dengan "bagaimana" dan "mengapa", lupa bahwa ada Allah yang Maha Mengetahui segala strategi terbaik. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Syekh Ibnu Athaillah kembali menasihati, "Bila engkau merasa jauh dari Allah, maka dekati Dia dengan banyak mengenang-Nya." (Berdasarkan makna Al-Hikam). Ketika hati terasa hampa, ketika diri merasa tak berarti, ada satu obat jitu yang takkan pernah gagal: dzikrullah. Bangunlah malam, walau hanya sesaat. Sucikan hati, dan bisikkan nama-Nya. Biar air mata mengalir, membasuh luka-luka jiwa. Rasakan kehadiran-Nya dalam setiap hela napas. Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi: "Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam Diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di tengah keramaian, maka Aku mengingatnya di tengah keramaian yang lebih baik (yaitu para malaikat)." (HR. Bukhari & Muslim) Sungguh, betapa besar kehormatan yang diberikan kepada hamba yang senantiasa mengingat Tuhannya! Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Pernahkah engkau merasakan kerinduan yang begitu dalam kepada Sang Maha Pencipta? Rindu yang membuat dadamu sesak, rindu yang membuatmu menangis sejadi-jadinya? Jika belum, maka tanyakan pada dirimu, apakah hatimu telah benar-benar hidup? Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan, "Apabila engkau melihat urusan dunia menyibukkanmu dari mengingat Allah, maka ketahuilah bahwa itu adalah datangnya musibah bagimu." (Berdasarkan makna Al-Hikam). Ya, dunia dengan segala gemerlap dan kesibukannya bisa menjadi racun yang mematikan bagi ruhani. Ia menjanjikan kebahagiaan semu, namun kenyataannya seringkali hanya meninggalkan kehampaan. Mari kita renungkan firman-Nya yang mengguncang jiwa: "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau dan perhiasan (kemegahan) serta saling berbangga di antara kamu dan saling berlomba dalam memperbanyak harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan, kemudian tumbuh subur kemudian menjadi kering lalu kamu lihat (batangnya) menguning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al-Hadid: 20) Lihatlah, wahai saudaraku. Apa gunanya semua kesibukan duniawi jika akhirnya hanya menjadi kesenangan yang menipu, yang justru menjauhkan kita dari tujuan hakiki? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Ketika air mata mulai membasahi pipi, ketika hati bergetar karena takut akan siksa-Nya, pada saat itulah pintu taubat terbuka lebar. Syekh Ibnu Athaillah berkata, "Jangan engkau terhalang dari berbakti karena tidak melihat buahnya, karena sesungguhnya Ia (Allah) tidak melalaikanmu dari membalasnya, bahkan tatkala buahnya belum tampak." (Al-Hikam: 24) Kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan dengan ikhlas karena Allah, tidak akan pernah sia-sia. Allah mencatatnya, menunggunya untuk kita di saat yang tepat. Ia tidak menunda pahala orang yang berbuat baik. Dengarkanlah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Barangsiapa berwudhu dengan baik, lalu ia bersegera menuju shalat Jumat, lalu ia bersegera (ke shalat) dan mendengarkan dengan baik, maka diampuni baginya dosa antara Jumat itu dan Jumat berikutnya, ditambah tiga hari. Dan barangsiapa bermain-main dengan kerikil (saat khutbah), maka sungguh ia terhalang dari kebaikan." (HR. Muslim) Shalat Jumat, mendengarkan khutbah, itu adalah kesempatan emas untuk membersihkan diri, untuk mendapatkan ampunan. Mengapa kita masih menunda untuk bertaubat? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Malam-malam panjang itu telah berlalu, namun terkadang kita masih terlelap dalam kelalaian. Beban pikiran menggunung bukan karena beratnya dunia, tetapi karena beratnya dosa yang membebani dada. Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan, "Kematian adalah teman perjalananmu; jadikanlah ia pembimbingmu." (Berdasarkan makna Al-Hikam). Renungkanlah akhir dari segala perjalanan ini. Adakah bekal yang telah kau siapkan? Apakah engkau telah bersiap untuk menghadapi-Nya dalam keadaan paling mulia? Jangan biarkan diri kita terus tenggelam dalam lautan keluh kesah. Bangkitlah! Bangkitlah dengan kekuatan iman, dengan harapan yang membaja kepada Allah Yang Maha Pengasih. Mari kita jadikan istirahat sejenak ini sebagai momentum untuk mendekat, untuk berserah diri, untuk menangis dalam taubat. Agar kelak, di hari perhitungan, kita tidak lagi diliputi penyesalan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →